Perasaan yang Tak Kuperjuangkan
Maudy memandang jalanan dari jendela bus yang sedang berjalan menuju ke Bogor. Pikirannya mengelana pada kejadian selama live in yang berakhir pada pagi hari tadi. Bagaimana suasana desa yang sudah membuatnya merasa nyaman untuk tinggal disana, warga sekitar yang selalu ramah, dan pemandangan alam yang akan jarang ia temui saat kembali ke kota. Kenangan manis yang terukir disana, membuat Maudy jadi terharu memikirkannya. Belum juga genap sehari ia meninggalkan desa itu, tetapi rasa rindu sudah mulai merebak di dalam hati.
“Dy, mau gak?” Rania yang kini duduk di sebelah Maudy menyodorkan bungkus cemilan padanya.
Seketika lamunan Maudy buyar ketika sahabatnya memanggil. Menatap sebentar cemilan yang di tawarkan, Maudy menggelengkan kepala pelan. Ia benar-benar tidak ada selera untuk makan apa pun dengan suasana hati yang sedang tidak baik saat ini. Sekalipun cemilan yang ditawarkan Rania adalah salah satu cemilan favoritnya.
“Gak deh, makasih.” tolak Maudy.
Kalimat penolakan itu membuat Rania menarik tangannya kembali seperti semula. Setelahnya ia melanjutkan kegiatan mengemilnya sambil memandang jalanan seperti yang dilakukan oleh Maudy tadi. Sedangkan Maudy kembali melamuni seseorang yang sejak tadi mengganggu pikirannya, seakan tidak mengizinkan Maudy menikmati hari-harinya.
“Ran, salah gak sih kalo gue menghindar dari dia?” Maudy tiba-tiba bertanya pada Rania dengan suara pelan.
Sekelibat tatapan sendu terpancar dari mata cokelatnya, tetapi dengan sebisa mungkin Maudy samarkan. Ia paling tidak suka terlihat lemah di depan orang lain, apalagi orang itu adalah sahabatnya sendiri. Ia juga tidak mau Rania jadi khawatir padanya.
“Dia yang lu maksud itu, Andra kan?” Rania balik bertanya untuk memastikan orang yang dia pikirkan sama seperti yang dimaksud oleh Maudy.
Maudy hanya menggangguk sebagai balasan. Kemudian keduanya malah memperhatikan Andra yang kini sudah terlelap dalam tidurnya bersama dengan Eva yang duduk di sebelahnya. Sebenarnya bukan mereka berdua saja yang tidur, sebagian besar penghuni bus ini sudah terlelap karena kelelahan. Jadi tidak akan ada yang sadar kalau kedua gadis itu memperhatikan Andra dan Eva diam-diam, apalagi lampu di bagian belakang bus sengaja dibuat redup supaya para murid bisa tidur lebih nyaman.
“Sebelum gue jawab pertanyaan lu yang tadi, gue mau nanya dulu ke lu. Apa lu bakal rela kalau seandainya dia balik ngejauhin lu?”
Maudy mengalihkan pandangannya sejenak untuk berpikir. Sejujurnya, ia tidak mau menjauh dari siapapun. Ia ingin semuanya berjalan seperti biasanya. Tetapi masalahnya, tak bisa Maudy pungkiri bahwa hatinya akan terluka kalau ia tetap bertahan dengan perasaannya. Karena rasa sukanya saat ini, ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan sebelumnya. Ia masih harus mempertimbangkan perasaan Andra, Eva, dan perasaan dia sendiri. Maudy sudah lelah bersikap baik-baik saja ketika melihat kedekatan mereka berdua yang semakin hari rasanya semakin dekat.
“Gue bakal kecewa mungkin? Gue juga gatau. Tapi gue rasa ini buat kebaikan semuanya. Jadi engga ada salahnya kan kalo gue berusaha menghapuskan perasaan gue buat dia? Lagipula dia udah cukup keliatan bahagia pas lagi sama Eva. Makanya sekarang gue berani buat ngomong kayak gini. Selain itu juga, gue engga bisa lagi bohongin perasaan gue sendiri kalo sebenernya sakit liat kedekatan mereka dan gue juga engga ada niatan buat misahin mereka, jadi pilihan akhirnya adalah gue mundur aja.” ucap Maudy.
“Yaudah, kalau emang menurut lu itu udah yang terbaik, ya jalanin aja. Tapi kalau misalkan lu gabisa, gak usah dipaksain juga. Ujung-ujungnya kan malah lu yang makin sakit. Jadi berusaha semampunya aja ya, jangan nyiksa diri sendiri. Lu udah terlalu banyak terluka kan?” Rania memandang Maudy dengan tatapan lembut sembari menggenggam tangan gadis itu untuk memberikan semangat.
“Iya, gue bakal berusaha semampu gue. Makasih ya, Ran atas sarannya.” ucap Maudy.
Hatinya menjadi lebih tenang setelah mendengarkan perkataan Rania. Mungkin akan sulit untuk mengikhlaskan perasaan beserta kenangan-kenangan indah yang pernah terjadi di antara mereka, tapi Maudy berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berusaha sekeras mungkin untuk membebaskan rasa sakit yang membelenggunya.
Bus yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah makan yang akan menjadi tempat rombongan itu makan malam. Seketika murid-murid yang tertidur langsung terbangun karena lampu di dalam bus sudah dinyalakan dan guru pembimbing mereka membangunkan mereka menggunakan toa yang sudah disiapkan.
“Ayo semuanya segera bangun! Kita akan makan malam dulu sebelum kembali melanjutkan perjalanan pulang kita ke Bogor. Kalian boleh membawa turun barang-barang berharga saja, sedangkan barang lainnya ditinggalkan saja di dalam bus.” ucap Pak Herman.
Tak lama kemudian, para murid turun dari dalam bus dan berjalan menuju rumah makan yang memang sudah di sewa khusus untuk para rombongan dari Belmora Akademia. Maudy tidak langsung turun karena ia sedang menyiapkan mental untuk berbicara pada Andra. Ya, pada akhirnya Maudy memilih untuk menyelesaikan masalahnya hari ini juga.
“Lu gak mau turun?” Rania menoleh pada Maudy yang masih terdiam di bangkunya.
“Turun kok. Ayo.” jawab Maudy.
Ia yang sudah selesai membulatkan tekadnya untuk berbicara pada Andra sehabis makan nanti. Ia hanya berharap semoga saja pertemanannya dengan Andra tidak akan berakhir begitu saja setelah ia mengungkapkan kebenarannya nanti.
Kegiatan makan malam berlangsung lumayan cepat, bersamaan dengan jantung Maudy yang terus berdetak cepat. Ia melirik Andra yang duduk di sebrangnya, sepertinya cowok itu sudah selesai dengan kegiatan makannya. Dengan segenap keberanian, Maudy memanggil Andra.
“Andra, bisa ikut bentar sama gue?” ucap Maudy mengundang tatapan tanya dari Andra dan penghuni meja lainnya.
“Bisa, emangnya mau ngapain?” tanya Andra.
“Ikut aja dulu, nanti gue jelasin semuanya.” jawab Maudy sembari bangkit dari bangkunya.
Walaupun masih bingung, Andra ikut bangkit dari bangkunya dan mengikuti Maudy yang saat ini sudah berjalan ke tempat yang lebih tertutup. Dari arah belakang, Rania dan Eva memperhatikan kepergian mereka berdua.
“Kenapa Dy? Ada yang mau lu omongin?” tanya Andra to the point.
“Gue mau bikin pengakuan tentang sesuatu dan lu jangan motong kata-kata gue sampe gue selesai ngomong.” ucap Maudy dengan tatapan serius.
Andra tidak bersuara lagi dan langsung diam seperti arahan Maudy tadi.
“Gue suka sama lu, tapi gue memutuskan untuk mundur, karena ternyata rasa suka yang gue miliki tidak semudah yang gue bayangkan dan malah menyakiti hati gue. Mungkin emang engga bisa langsung lupa begitu aja, gue akan coba pelan-pelan. Lu berhak buat menghindari gue atau semacamnya, tapi gue harap pertemanan kita tetap baik-baik aja.” ungkap Maudy.
Andra masih terdiam dengan tatapan yang tidak terbaca. Maudy bisa melihat jelas kalau tadi cowok itu terkejut dengan pengakuannya. Tapi Andra adalah Andra, ia tetap mempertahankan sikap misterius yang sudah melekat padanya. Maudy harus menunggu beberapa menit sampai akhirnya Andra membuka suaranya.
“Gue sebenernya bingung mau bales gimana, karena sejujurnya gue kaget lu ngomongin ini secara tiba-tiba. Tapi gue mau bilang makasih karena lu memutuskan untuk jujur. Dan seperti yang lu bilang, gue juga nyaman dengan status pertemanan kita yang sekarang dan engga kepikiran untuk lebih dari itu. Jadi kita temenan aja ya?” kata Andra sambil tersenyum.
Maudy balas tersenyum. Lega rasanya setelah mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam hatinya. Ia bersyukur karena Andra tidak memilih untuk menjauhinya dan memutuskan hubungan pertemanan yang sudah mereka jalani selama bertahun-tahun. Sekalipun ia tahu perasaannya tidak akan pernah berbalas, Maudy lebih senang karena masih bisa memiliki Andra sebagai teman yang selalu ada untuknya.
“Makasih Dra, udah mau mengerti dan engga memilih untuk pergi.” ucap Maudy tulus.
***
💕💕💕
BalasHapus