Anima Desolata
“Adella, aku boleh nanya gak?” ucap Bernadeta, sahabatku.
Aku menolehkan kepalaku ke samping, menatap bola mata biru laut miliknya yang entah kenapa selalu terlihat sendu setiap saat, tetapi anehnya malah menenangkan secara bersamaan.
“Nanya apa memangnya? Selama itu bukan soal matematika, mungkin aku bisa jawab.” kataku sembari menampilkan sebuah cengiran.
Bernadeta hanya tersenyum sekilas melihat tingkahku. Ia tidak langsung menyebutkan pertanyaannya, melainkan termenung dalam pikirannya sendiri. Sekilas aku melihat sebuah keraguan di wajah putih pucat miliknya, tapi dengan cepat keraguan itu hilang dari ekspresinya yang kini sudah kembali seperti semula.
“Menurutmu, arti dari kesepian itu apa?” tanya Bernadeta akhirnya membuka mulut.
Tentu saja pertanyaan itu membuatku terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban yang tepat. Entah aku yang terlalu lama berpikir atau memang waktu yang berjalan terlalu cepat hingga bel masuk kelas sudah berbunyi. Mau tidak mau aku dan Bernadeta harus kembali ke kelas, tentunya tanpa jawaban dari pertanyaan barusan.
Ingatan dari masa lalu kembali melintas di kepalaku. Jika saat ini aku harus mendeskripsikan apa arti dari kesepian yang tidak sempat aku jawab waktu itu, mungkin aku akan mengatakan kesepian adalah sebuah kondisi dimana hati seseorang terasa kosong dan ia akan mengisolasi dirinya sendiri dari dunia luar. Begitu hening dan menyedihkan. Bahkan rasa sepi itu bisa saja menjadi salah satu penyebab gangguan kejiwaan, bahkan sampai kematian untuk manusia, khususnya bagi orang yang memiliki tingkat kesepian yang sangat tinggi dan sudah beranggapan bahwa ia tidak lagi memiliki alasan untuk hidup di dunia. Miris bukan? Tapi itu adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Aku sangat setuju bahwa setiap orang memiliki tingkat kesepiannya masing-masing. Seharusnya kita paham bahwa ini adalah sesuatu yang wajar dan bisa dialami oleh semua orang, walau dengan takaran dan cara yang berbeda. Bisa saja kesepian itu berawal karena pekerjaan, sekolah, keadaan di rumah, lingkungan sekitar, masalah percintaan, dan masih banyak lagi. Jadi sudah seharusnya kita saling menghargai dan menjaga satu sama lain, bukannya malah membanding-bandingkan dan menjadikan kondisi tersebut sebagai lelucon yang perlu disebarkan layaknya aib yang harus dihindari dan dibuang begitu saja. Sayangnya masih banyak orang yang tidak berusaha memahami ini dan menganggapnya sepele.
Di zaman sekarang, semua kegiatan bisa dilakukan dengan mudah, karena kita sudah dikenalkan dengan sesuatu yang dinamakan teknologi. Tapi kenapa tingkat kesepian ini malah semakin tinggi? Mungkin itu disebabkan karena banyak orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing dan tidak mempedulikan keadaan sekitarnya. Bahkan waktu berkomunikasi secara langsung semakin menurun, sampai-sampai terbilang sulit. Walau kita sering melakukan interaksi di media sosial, tetap saja rasanya berbeda dengan komunikasi secara langsung. Kita tidak pernah tahu apakah kalimat yang terkirim itu adalah kebenaran atau hanya sebuah kebohongan belaka.
Ketika bertemu secara langsung saja kita bisa tertipu, apalagi hanya lewat interaksi secara online? Fisik memang boleh terlihat baik-baik saja, tetapi untuk masalah mental, hanya diri kita sendiri yang bisa mengukur dan merasakannya, orang lain mana tahu, peduli saja tidak. Banyak dari kita memasang topeng seolah-olah dalam keadaan baik-baik saja, kemudian menebar senyuman lebar pada semua orang. Memang mudah dilakukan, tapi untuk apa kamu ingin seluruh dunia percaya pada kebohonganmu itu? Mungkin kamu tidak akan sadar kalau kamu sedang menghancurkan dirimu sendiri lewat kebohongan tersebut.
Di satu sisi, aku ingin menyalahkan takdir yang menghadirkan perasaan kesepian itu. Kalau kita bisa merasakan apa itu kebahagiaan, kenapa juga kita harus disulitkan dengan kesedihan yang malah menghancurkan seluruh hidup kita? Tapi disaat yang bersamaan aku juga sadar, bahwa tidak semuanya tentang kebahagiaan melulu atau kesedihan melulu, semuanya diciptakan berpasangan dan itu merupakan hal yang lumrah. Terkadang sebuah luka bisa menjadi kekuatan, begitu pula sebaliknya. Jadi tidak ada yang bisa disalahkan.
Disini aku hanya mengeluarkan pendapatku, bukan untuk mendapatkan sebuah pembenaran. Aku hanya tidak ingin ada korban lain yang terjebak dalam kesepian dan berakhir meninggalkan orang-orang terdekatnya. Karena berdasarkan pengalamanku, aku kehilangan salah satu sahabat yang paling aku sayangi akibat kasus yang sama. Sejujurnya aku sangat marah, kenapa dia harus mengambil keputusan nekat untuk mengakhiri dirinya sendiri malam itu? Tidakkah dia memikirkan perasaan orang-orang terdekat lainnya? Tapi tentu saja kemarahan itu sudah menjadi sia-sia, karena nasi sudah menjadi bubur.
Meskipun rasa tak rela itu masih ada, aku tetap berusaha untuk mengikhlaskan kepergiannya dan berusaha memaafkan diriku yang terus merasa bersalah tidak sempat menyelamatkannya dari kegelapan itu. Yang aku percaya sekarang, segala sesuatu memiliki arti tersendiri di dalamnya. Walaupun butuh bertahun-tahun untuk memahaminya, jangan berhenti berjuang. Hasil tidak pernah mengkhianati usahamu bukan? Tidak peduli seberapa banyak tantangan yang akan kau hadapi, tetaplah memiliki semangat di dalam hati kecilmu, karena kamu lah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan dirimu sendiri.
Komentar
Posting Komentar